Rabu, 02 Juni 2010

Posisi China dalam Perang Dingin


Orryzaid (202000039)


LATAR BELAKANG

            Perang Dingin ialah suatu konflik interstate (antar Negara Adidaya) paska perang Dunia ke-II. Dengan aktor utamanya; Amerika Serikat dan sekutunya melawan Uni Soviet dan sekutunya. Dikatakan sebagai Perang dingin, karena tidak adanya deklarasi formal akan perang tersebut dan juga kontak senjata secara langsung. Hanya merupakan perang urat syaraf antar keduanya. Adanya perbedaan National Interest (kepentingan nasional); Demokrasi Liberal melawan Komunis. Dan perbedaan ideologi seperti; Amerika Serikat menyusung prinsip Demokrasi Liberal yang berdasarkan sistem sosial pada masyarakatnya dan sistem politik yang bergantung kepada peran tiap-tiap individu dalam PEMILU serta sistem ekonomi, kapitalis yang menyediakan kesempatan bagi tiap-tiap individu untuk mengejar/memenuhi kebutuhan ekonomi dengan sedikit maupun banyak intervensi dari Negara/pemerintah. Sedangkan Uni Soviet mengedepankan prinsip ideologi komunisme sebagai sistem internasional dan tujuan Negara pada praktiknya.
Tujuan negaranya mencakup ideologi Marxisme dimana ada konsep akan penguasan dengan Total Control  oleh satu individu (kaum borjuis) dalam memproduksi sesuatu dan memiliki Authority Power (wewenang kekuasaan) dalam mengaturnya, serta perbedaan Geografis dan Politik (Containment Policy). Diplomat dan ahli sejarah juga staf senior Departemen Kenegaraan Amerika Serikat, George Kennan berpendapat;“ The Soviet Union would always feel military insecurity, it would conduct an agreesive foreign policy“. Pandangan tersebut diutarakan dengan melihat pendapat para Policy Makers (pembuat keputusan) Amerika Serikat yang beranggapan bahwa Interest (kepentingan) Amerika Serikat bergantung kepada Uni Soviet. [i]
Perang Dingin yang dapat berkembang menjadi sebuah malapetaka global, yang mungkin telah melibatkan penggunaan senjata nuklir. Dominasi  Uni Soviet dan Amerika Serikat terhadap para sekutunya menyebabkan hubungan internasional sangat dipengaruhi kepentingan kedua negara adidaya.  Tidak mengherankan muncullah blok-blok aliansi yang lebih didasarkan pada persamaan ideologis. Hampir semua langkah diplomatik dipengaruhi oleh tema-tema ideologis yang kemudian dilengkapi dengan perangkat militer.  Pertentangan sistem hidup komunis dan liberal ini sedemikian intensifnya sehingga pada akhirnya perlombaan senjata tak dapat dihindarkan lagi karena dengan jalan menumpuk kekuatan nuklir itulah jalan terakhir menyelamatkan ideologinya.
Globalisasi konflik, dengan munculnya; Pemblokadean Tembok Berlin (1948-1949), Perang Korea (1950-1953), krisis misil Kuba (1962), Perang Vietnam (1965-1973), dan Perang Afghanistan (1979). Disebagian belahan Dunia lainnya tidak bereaksi secara langsung terhadap Perang Dingin yang hanya memberikan influence (pengaruh) terhadap munculnya ideologi-ideologi baru. Seperti halnya tokoh dari Cina Zhou Enlai telah lama hidup di Eropa pada masa Perang Dingin. Dimana ia berkecimpung kedalam partai komunis. Sepulangnya dia ke tanah air, bersama dengan koleganya. Mao Zedong mentransformasikan dan menginterpretasikan kedalam bentuk baru dari paham komunis. Munculnya paham tersebut berawal dari kemenangan Partai Komunis Cina dalam konflik politik di Cina.
Pada tahun 1923, Partai Komunis Cina (pimpinan Mao Zedong), beraliansi dengan partai Kuomintang (pimpinan Sun Yat Sen). Tidak berlangsung lama aliansi tersebut pecah menjadi suatu Perang Sudara yang tak terelakkan. Pada tahun 1949, Perang Saudara antara keduanya berakhir. Pada 1 oktober 1949, Mao Zedong memproklamirkan kemerdekaan Republik Rakyat Cina. Partai Komunis Cina menjadi pemegang mandat pemerintahan. Berdirinya RRC diakui oleh Uni Soviet dan Negara-negara komunis lainnya. Beberapa Negara yang tidak menganut paham komunis pun turut mengakuinya, seperti: India, Inggris, Perancis dll. Sebaliknya Amerika Serikat tidak mau mengakui keadaulatan wilayah Cina dan hanya mendukung permerintahan Republik Nasionalis Cina pimpinan Chiang Khai Shek di Taiwan secara aklamasi, karena mengedepankan format ideologi demokrasi yang serupa dengan Amerika Serikat. Bahkan, Amerika Serikat pun menentang keberadaan RRC di PBB.
Berakhirnya Perang Dingin itu sendiri berdasarkan berbagai faktor, seperti; pengaruh dari kepemimpinan Mikhail Gorbachev yang dapat membina hubungan baik dengan Amerika Serikat. Dan pengunduran dirinya pada tahun 1991, membuat Uni Soviet pecah. Dan pada tahun 1992-1993 Rusia dan Negara pecahan Uni Soviet menjadi Negara-negara independen. Menurut buku yang dikeluarkan oleh Francis Fukuyama: “Kapitalis Win“ dan adanya pandangan; “The end of evil empire “, yaitu suatu Arm race (keunggulan militer) yang dimenangi Amerika Serikat. Dari sisi ekonomi melihat perlunya suatu ongkos/biaya dengan jumlah uang yang banyak. Dengan demikian hanya pihak Amerika Serikat yang mampu menjangkaunya. Kemudian adanya New World Order; Unipolarity pada sistem internasional yang dijalankan oleh George W. Bush (Amerika Serikat).[ii]
Keterlibatan RRC dalam kemunculan Perang Dunia berawal saat naiknya Mao Zedong dalam kepemimpinan Cina menimbulkan efek yang signifikan dalam praktek politik perimbangan kekuatan antara 2 Negara adidaya, Amerika Serikat dan Uni Soviet. Pengaruh dari sosok Mao Zedong yang sangat signifikan, baik terhadap Negara Cina dan Negara lainnya. Di Cina ia mentransformasikan 1 milyar orang dengan  cara menghapuskan sistem sosial lama/tradisional, seperti; Landlord (tuan tanah). Ia juga menaikan taraf hidup dengan ditingkatkannya pendidikan dan pelayanan kesehatan. Dan bahkan ia juga melenyapkan nyawa 1 milyar orang.






PEMBAHASAN


Dari perspektif kekuatan militer dan persenjataan, RRC mulai mengembangkan proyek teknologi persenjataan nuklirnya sejak 1957. Proyek tersebut dibangun dengan bantuan Uni Soviet dalam pembiayaan dan asisten teknologi. Pengembangan teknologi persenjataan di Cina dapat dilihat dalam argumentasi bahwa dalam kajian Perang Dingin, konsep self help dan state survival hanya dapat dicapai dengan meningkatkan unsur power suatu negara. Bahkan, pembangunan angkatan bersenjata ini menjadikannya sebagai negara kelima di dunia yang mampu membuat bom atom pada 1964. Self help adalah pandangan bahwa kekuatan negara tidak dapat diandalkan dari adanya proses aliansi, tetapi harus dibangun secara mandiri. State survival adalah prinsip yang menekankan pentingnya menciptakan ketahanan negara. Power adalah prinsip yang menekankan pentingnya pengembangan teknologi persenjataan seoptimal mungkin yang memunculkan efek deterrence (penangkalan) bagi negara lain untuk menyerang negara yang bersangkutan.
Dalam konteks Cina, pembangunan teknologi persenjataan yang didukung Uni Soviet telah membuat Amerika Serikat memperhitungkan kekuatan Cina sebagai salah satu potensi ancaman bagi Blok Barat atau setidaknya kekuatan yang seimbang. Dalam konstelasi Perang Dingin, Cina secara geopolitik dan geostrategis memiliki 2 keuntungan dalam pertarungan ideologi:
-  Pertama, Cina menjadi negara potensial sebagai target perluasan pengaruh ideologi dari kedua negara adikuasa sekaligus berperan sebagai kekuatan sentral dari ideologi yang dimenangkan dalam pertarungan antara Amerika Serikat dan Uni Soviet.
- Kedua, posisi geografis Cina yang strategis menjadi keuntungan tersendiri bagi kedua negara adidaya dalam menyebarluaskan ideologi masing-masing di kawasan Asia Tengah dan Asia Tenggara, terutama dalam efisiensi penyebaran masing-masing ideologi ke wilayah sekitarnya.
Perang Dingin yang tadinya dicirikan oleh ketegangan antara kedua contending superpowers - Amerika Serikat dan Uni Soviet.  Namun posisi Mao dari Cina dalam Perang Dingin, merupakan kunci dalam banyak hal, tetapi tidak sekeliling pusat. Pengamatan yang dilakukan oleh para ilmuwan politik Andrew J. Nathan dan Robert S. Ross membuat pikiran sehat: "Selama Perang Dingin, Cina adalah satu-satunya negara besar yang berdiri di persimpangan dari dua kekuatan kamp, sebuah target untuk mempengaruhi dan permusuhan keduanya". Dengan jumlah penduduk terbesar dan menduduki wilayah yang ketiga terbesar di dunia, Cina merupakan faktor kekuatan yang tidak dapat diabaikan.[iii] 
Pada akhir tahun 1940-an dan awal 1950-an, ketika Mao dari Cina memasuki aliansi strategis dengan Uni Soviet, Amerika Serikat segera merasa terancam dengan serius. Offensives dihadapi oleh negara-negara komunis dan revolusioner/radikal nasionalis kekuatan di Asia Timur. Pada akhir tahun 1960-an dan awal 1970-an, situasi berikut dikembalikan sepenuhnya split antara Cina dengan Uni Soviet dan penyesuaian dengan Amerika Serikat.  Sebagai hasil dari harus menghadapi Barat dan China secara bersamaan, Uni Soviet dan kekuatan overextended, timbulah kontribusi yang signifikan pada akhir dari runtuhnya kekaisaran Soviet pada akhir tahun 1980-an dan awal 1990-an. Munculnya Mao dari Cina sebagai negara yang unik revolusioner pada akhir tahun 1940-an juga mengubah orientasi dari Perang Dingin dengan pergeseran yang sebenarnya dari Eropa ke Asia Timur, karena ternyata akan membuat Asia Timur menjadi kawasan utama dari Perang Dingin, sementara pada saat yang bersamaan, akan membantu Perang Dingin untuk tetap menjadi "dingin".
Bila revolusi Komunis Cina nasional mencapai kemenangan pada tahun 1949, secara global di Perang Dingin adalah jeda penting. Dua kejadian penting di pemblokadean tembok Berlin 1948-1949 dan Uni Soviet berhasil menguji sebuah bom atom pada Agustus 1949. Keduanya digabungkan untuk mengajukan tantangan yang serius kepada dua superpowers. Terhadap latar belakang ini, Moskow memiliki visi berpaling ke Asia Timur. Pada Juni-Agustus 1949, pada malam kemenangan bagi revolusi Komunis Cina, pemimpin nomor dua dari Partai Komunis Cina (ccp), Liu Shaoqi, diam-diam berkunjung ke Moskow untuk bertemu dengan Joseph Stalin.
 Kedua pemimpin menyimpulkan bahwa "situasi revolusioner" sekarang ada di Asia Timur. Dalam kesepakatan mengenai "pembagian kerja" antara Cina dan Uni Soviet revolusi komunis untuk perdagangan dunia, sedangkan mereka memutuskan bahwa Uni Soviet akan tetap menjadi pusat internasional proletar (buruh) revolusi. Pelaksanaan perjanjian ini mengakibatkan Cina memberikan dukungan untuk Ho Chi Minh di Vietnam, dan pada bulan Oktober 1950, intervensi besar-besaran dalam Perang Korea, membuat Mao dari Cina memerangi imperialis AS. Sepanjang tahun 1950-an dan 1960-an, Asia Timur tetap menjadi fokus utama dari Perang Dingin. Sementara itu Cina ,memainkan role play (peran sentral) yang signifikan pada saat krisis selat Taiwan (1954-1955, 1958, 1995-1996) dan Perang Vietnam (1979).
Perang Dingin di Asia meluas setelah RRC berusaha melaksanakan politik luar negeri yang ekspansif. Hal ini dikarenakan Mao Zedong berusaha menjadikan RRC sebagai negara terkuat di Asia dan juga menyebarkan revolusi ala Mao kepada negara-negara berkembang. Dengan melihat School of Thought (pendekatan dalam ilmu Hubungan Internasional) melalui aliran Behavioralisme, yaitu memahami perilaku internasional dan sistem internasional. Dalam konteks Perang Dingin menurut Richard Snyder dan Morton Kaplan; “banyak faktor yang mempengaruhi perilaku suatu Negara; diantaranya lingkungan domestik dari suatu Negara tersebut”. Pendudukannya atas Tibet pada 1950, keterlibatannya dalam Perang Korea (1950-1953), serta klaimnya atas Taiwan tidak hanya mengkhawatirkan negara-negara Barat, tetapi juga Uni Soviet.[iv] Perjanjian Cina-Uni Soviet tahun 1950 mengenai bantuan Uni Soviet kepada Cina ternyata tidak berlangsung lama. Penyebabnya, terjadi perbedaan interpretasi antara pemimpin RRC (Mao) dan pemimpin Uni Soviet (Stalin dan Khruzchev). Dalam menentang Uni Soviet, Mao menganggap bahwa model komunis RRC lebih baik dan lebih murni dibandingkan dengan komunis Uni Soviet. Oleh karena itu, komunis RRC lebih pantas untuk memimpin komunisme di seluruh dunia.
Pada masa kepemimpinan Stalin, hubungan RRC dan Uni Soviet sebenarnya sangat erat, karena kedua negara tersebut menganut paham sosialis-komunis. Strategi aliansi yang diterapkan Uni Soviet dengan menggandeng RRC tahun 1949-1950 menjadi salah satu faktor penyebab kemunculan poros barat-timur dalam Perang Dingin. Selain RRC, poros timur di kawasan Asia juga diwakili oleh Vietnam, Korea Utara, Laos, dan Kamboja. Dalam hal strategi, hal tersebut menjadi sebuah ancaman serius bagi sebuah kepentingan ekonomi, politik, dan penyebaran ideologi demokrasi liberal Amerika Serikat. Strategi aliansi Mao ini memaksa Amerika Serikat memfokuskan perhatiannya kepada 2 hal, yakni perkembangan ideologi komunis di Eropa Timur dan RRC. Aliansi kekuatan Uni Soviet dan Cina kemudian menjadi parameter atas melebarnya ruang lingkup Perang Dingin dari kawasan Eropa ke Asia. Akibatnya, penanaman pengaruh militer dan pertahanan Amerika Serikat di kawasan Asia pun menjadi semakin kuat. Parameternya terdapat pada pemberian bantuan militer dan persenjataan Amerika Serikat di Vietnam Selatan dan Korea Selatan. Setelah Stalin wafat pada 1955, hubungan Uni Soviet dan RRC merenggang. Hal ini terjadi karena Uni Soviet di bawah Khruzchev bersikap terlalu lunak dan kompromi terhadap Amerika Serikat. Sikap Khruzchev tersebut oleh Mao Zedong dianggap sebagai pengkhianatan terhadap Revolusi Komunisme Internasional. Pertentangan memuncak ketika terjadi sengketa perbatasan antara 2 negara komunis tersebut.
Bagi Uni Soviet, Manchuria merupakan daerah strategis, tetapi Mao berusaha mengambil alihnya. Sementara itu, Mongolia yang berstatus negara merdeka dimasukkan ke dalam wilayah Uni Soviet sebagai pengganti Manchuria. Selain itu, Uni Soviet pun menjalin kerja sama dengan Korea Utara mengakibatkan hubungan Uni Soviet dan RRC semakin panas. Uni Soviet kemudian menempatkan sekitar satu juta tentara angkatan darat dan udara lengkap dengan persenjataan ofensif termasuk senjata nuklir di seluruh daerah garis perbatasan dengan RRC (Tibet, Singkiang, Mongolia, dan Manchuria). Sementara itu, di Asia Tenggara, Uni Soviet memperkuat kedudukannya dengan memberi bantuan kepada Vietnam untuk membendung RRC di bagian selatan. Keadaan tersebut menyebabkan RRC merasa terkepung dan segera meningkatkan pertahanan militernya.
Menteri Luar Negeri Cina, Zhou Enlai, berhasil mempengaruhi beberapa negara tetangga agar memihak kepada Cina. Pangeran Sihanouk dari Kamboja direkrut. Tak hanya itu, Indo-Cina yang ditinggalkan oleh Amerika Serikat juga didekati. Sejak 1970-an, Perang Dingin antara Cina dan Amerika Serikat mereda setelah terjadi pendekatan oleh kedua belah pihak. Penyebabnya, RRC melihat bahwa Uni Soviet lebih berbahaya dibandingkan Amerika Serikat. Oleh karena itu, RRC berusaha menjalin hubungan baik dengan Amerika Serikat. Maka, pada Februari 1972, ketika Presiden Amerika Serikat, Richard M. Nixon menawarkan kunjungan ke Peking, Menlu Zhou Enlai menerimanya. Kunjungan ini juga diikuti oleh Perdana Menteri Jepang, Tanaka. Bagi Uni Soviet, kunjungan ini adalah upaya kedua negara mengancam kepentingan Uni Soviet di Asia. Kunjungan persahabatan itupun menciutkan nyali dari  Uni Soviet untuk menyerang RRC.
Hubungan RRC dan Uni Soviet tak kunjung membaik. Paska wafatnya Mao Zedong pada tahun 1976 pelaksanaan pemerintahan dalam negeri RRC sendiri dilakukan oleh Deng Xiao Ping (pengganti Mao), yang giat membersihkan aparaturnya dari pengaruh pemerintahan lama. Pada masanya, banyak partai yang menyebut dirinya Maois lenyap, namun berbagai kelompok komunis di seluruh dunia, khususnya yang bersenjata seperti Partai Komunis India, Partai Komunis Nepal, dan Tentara Rakyat Baru di Filipina, terus mengembangkan gagasan Maois dan memperoleh perhatian pers. Kelompok-kelompok ini biasanya berpendapat bahwa gagasan Mao telah dikhianati sebelum diterapkan dengan semestinya. Deng Xiao Ping sendiri memberikan banyak kontribusi dalam menjalankan roda pemerintahan. Policy (kebijakan) yang terealisasi antara lain menurunkan tingkat perkembangan populasi, menaikan standar pendidikan dan menjalin hubungan baik dengan Negara – Negara Barat. Akan tetapi kinerja dari Deng Xiao Ping tercoreng pada saat peristiwa pembantaian di Lapangan Tiananmen.




















KESIMPULAN


Dampak dari Perang Dingin, pada dasarnya munculnya Cina sebagai negara yang revolusioner dramatis meningkatkan persepsi dari perang dingin sebagai peperangan antara "baik" dan "jahat" di kedua belah pihak, sehingga konflik secara lebih eksplisit yang terbingkai oleh persepsi akan perbedaan ideologis. Mao Zedong muncul sebagai aktor utama pelaksana Politik Luar Negeri Cina dengan buah pemikiran barunya akan paham kominisme yang revolusioner dengan menyatukan berbagai filsafat kuno Tiongkok dengan Marxisme yang dikenal dengan Maoisme. Pada masa naiknya Mao Zedong, merupakan era baru dimana lahir dan munculnya ideologi yang cenderung memberikan banyak pengaruh dalam kancah politik Internasional baik dalam penyebaran maupun perluasan ideologi komunis (maois) ala Mao Zedong. Pada Januari 1958, Mao Zedong meluncurkan repelita ke-2 yang dikenal sebagai Great Leap Forward, rencananya dimaksudkan sebagai model alternatif pertumbuhan ekonomi dari model Uni Soviet yang berfokus kepada industri berat. Kemudian Mao meluncurkan revolusi kebudayaan pada tahun 1966. Revolusi tersebut menyebabkan kekacauan sosial dan banyak dari warisan budaya Cina rusak.
Pengaruh yang diberikannya menjadikan Cina sebagai suatu Negara yang harus diperhitungkan. Dengan demikian Mao dari Cina memiliki bahasa dan teorinya sendiri akan nilai-nilai dan kode perilaku mengenai kebijakan eksternal yang revolusioner dan merupakan  fitur dari kebijakan luar negeri Cina, dengan kenyataan bahwa Perang Dingin yang sebenarnya kawasan Eropa turun sebagai pusat politik internasional. Akan tetapi dengan penekanannya adalah pergeseran dari Eropa ke Asia Timur. Aliansi Cina dengan Uni Soviet merupakan salah satu pemicu munculnya Blok Barat dan Blok Timur. Dengan keterlibatan Cina pada saat berlangsungnya Perang Dingin, mangantarkan Cina berhadapan langsung dengan Amerika Serikat. Pemberian dukungan terhadap Ho Chi Minh di Vietnam yang berujung kepada Perang Vietnam. Kemudian intervensi pada saat Perang Korea, yang pernah membuat nilai karet Indonesia melejit harganya. Hingga peperangannya dengan Taiwan dalam halnya perebutan kekuasaan dan kedaulatan. Meskipun Mao Zedong telah membuat kesalahan yang serius pada akhir hayatnya, dilihat dari segala aspek kehidupan Mao telah berhasil untuk merevolusikan Cina yang dianggap primer, sedangkan kesalahannya dianggap sekunder. Banyak masyarakat Cina saat ini menghormatinya.
Lain halnya dengan Negara Indonesia, masa kepemimpinan Soekarno, ideologi/paham komunisme sempat menyebar luas di tanah air. Akan tetapi tidak berlangsung lama, karena adanya interpretasi yang berbeda akan paham komunisme. Dengan penduduk mayoritas beragama islam, ialah merupakan salah satu faktor penolakan terhadap ideologi komunisme. Dengan demikian pengaruh dan penyebaran ideologi komunisme hanya menghasilkan beberapa pemberontakan di Indonesia seperti; G 30 SPKI. Dalam penyebarannya sebelum imperialis Amerika Serikat dapat menyerang Uni Soviet, menurut Mao, mereka terlebih dahulu harus mengontrol antara zona (kawasan), sehingga Asia menjadi pusat arena perang dingin. 
Ketika Mao dan CCP merebut kekuasaan politik di Cina, mereka segera menyatakan bahwa akan merevolusioner Cina, sebagai sekutu alami dari "orang-orang tertindas”. Kekuatan komunisme di Asia semakin besar seiring menguatnya posisi Partai Komunis Cina dalam struktur pemerintahan Cina. Kekuasaan Partai Komunis Cina membuat pemerintah RRC tetap memberlakukan prinsip-prinsip dasar ideologi komunis sebagai dasar negara Cina. Hal itu diterapkan secara konsisten hingga saat ini. Hubungan Amerika Serikat dengan Cina pada masa sekarang ini semakin membesar dengan adanya hubungan ekonomi yang menjadi landasan kuat bagi kedua Negara untuk memperdalam hubungan kemakmuran, yang tujuan utamanya tidak lain adalah untuk meningkatkan kemakmuran. Hubungan ekonomi ini akan terus mengubah paradigma lama pemikiran Amerika Serikat, yang pernah merencanakan serangan nuklir kepada Cina.
Faktor Taiwan menjadi pengganjal utama dalam rangka normalisasi hubungan diplomatik Amerika Serikat dengan Cina. Karena masalah Taiwan merupakan suatu duri dalam hubungan Amerika Serikat dengan Cina untuk sekian lama. Amerika Serikat menarik diri dari pertahanan Amerika Serikat dengan Cina, yang isinya membatasi penjualan senjata ke Taiwan dan meminta penarikan pasukan Amerika Serikat dari Taiwan. Taiwan bukan saja penerima bantuan, tetapi juga menjadi basis kekuatan militer Amerika Serikat.
Perubahan lingkungan mempengaruhi hubungan antar bangsa. Jika pada masa Perang Dingin isu-isu ideologis dan militer sangat dominan. Hampir semua hubungan antar bangsa diterjemahkan kedalam konteks perang ideologi.Pada era paska Perang Dingin, tema-tema ideologis menyurut. Sebagai gantinya muncul isu-isu seperti hak asasi manusia, politik-ekonomi dan demokratisasi sebagai salah satu indikator yang menentukan hubungan internasional. Pada paska Perang Dingin munculah isu-isu multirateral baru yang bersifat Non Konvensional seperti; Drugs (narkoba), Energi, HAM, Lingkungan, Pangan, Perpindahan Penduduk, dan Teknologi. Isu – isu tersebut merupakan ancaman bagi keamanan dan ketahanan nasional suatu Nation State (Negara Bangsa). Dalam kaitannya saat ini penyebaran akan senjata konvensional oleh Amerika Serikat dan juga Rusia merupakan Negara pembuat dan pemasok senjata terbesar.
Teori menurut Barry Buzan mengenai “Arms Dynamic In World Politics”. Dimana proses akan Arms Race (keunggulan militer) antar ke dua negara tersebut kini juga melibatkan Negara Cina sebagai aktor yang memainkan peranan signifikan dalam hal dinamika persenjataan. Banyak Negara maju dan berkembang lainnya, seperti Indonesia ikut meramaikan industri persenjataan. Posisi bagi Negara Cina pada saat berlangsung dan berakhirnya Perang Dingin. Merupakan momentum dimana lahirnya dan muncul suatu Negara revolusioner yang notabene menjadi Negara maju. Dalam proses pencapaiannya tidak terlepas peranan dari sosok Political Leader (Presiden, Raja, Perdana Menteri) yang berkuasa dan juga cenderung memberikan pengaruh dalam menjalankan pemerintahan. Dan Cina sebagai Negara Superpower ke – III pada masa Perang dingin, hingga kini menjadi kuat dan semakin kuat diberbagai bidang dan aspek kehidupan.



[i] Kennan, George F; 1947; (“X”), “The Sourcer of Soviet Conduct“ ; Foreign Affairs 25; July

[ii] Mingst, Karen; 1998; “Essentials Of International Relations” ; New York; W.W. Norton & Company

[iii] Jian, Chen; 2001; “Mao’s China and the Cold War“ ; North Carolina; University of  North Carolina

[iv] Kegly, Charles W; 2006; “World Politics”; Canada Toronto, Thompson

1 komentar:

  1. Apa relevansi posisi dengan bentuk dan proses diplomasi? Apakah posisi yang dipilih dan diusahakan China sebagai hasiul diplomasi China atau posisi ini dipilioh sesuai dengan orientasi kebijakan luar negeri China? Bentuk diplomasi apa yang dilakukan China? Bagaimana prosesnya? This paper is lack of clarity.

    BalasHapus