Rabu, 02 Juni 2010

Perjuangan untuk Memperoleh Pengakuan Indonesia Melalui Diplomasi Beras dengan India

Fiona Karina Amalia
209000232

Perjuangan untuk Memperoleh Pengakuan Indonesia Melalui Diplomasi Beras dengan India

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
A. Inflasi Pacsa Kemerdekaan Indonesia
    Saat Indonesia baru merdeka dari penjajahan Jepang, Indonesia mempunyai pemerintahan yang tidak stabil. Kemudian pemerintahan yang tidak stabil tersebut menyebabkan krisis keuangan yang megakibatkan inflasi yang tinggi atau Hiper-Inflasi. Pada saat itu, diperkirakan mata uang Jepang yang beredar di Indonesia sebesar RP 4.000.000.000. dari uang tersebut diperkirakan uang yang beredar di Jawa saja mencapai 1,6 milyar. Lalu jumlah kemudian bertambah karena pasukan Sekutu berhasil menduduki kota-kota besar besar di Indonesia dan menguasai bank-bank 1). Dari bank-bank tersebut diedarkan uang cadangan sebesar Rp 2.300.000.000 dengan tujuan untuk biaya operasi dan membiayai pegawai-pegawainya 2). Pada saat itu, Indonesia yang tidak bisa menggantikan mata uang Jepang karena belum memiliki mata uang baru, yaitu mata uang Indonesia. Karena indonesia belum bisa menggantkan mata uang maka pemerintah RI menetapkan tiga mata uang sementara, yaitu matauang De Javasche Bank, mata uang pemerintah Hindia-Belanda, dan mata uang pendudukan Jepang 3). Kemudian keadaan diperparah dengan adanya peraturan baru dari AFNEI, yaitu diberlakukannya uang NICA di daera-daerah yang diduduki Sekutu karena nilai mata uang Jepang yang semakin menurun. Berlakunya mata uang NICA diprotes oleh pemerintah Indonesia memproses tindakan tersebut, karena berarti Sekutu telah melanggar persetujuan yaitu bila belum ada penyelesaian politik mengenai status Indonesia, tidak akan ada mata uang baru.

B. Blokade Ekonomi Belanda (NICA)
     Belanda memperparah krisis ekonomi di Indonesia, dengan cara memblokade laut Indonesia yang dimulai dari bulan November 1945. Tindakan blokade tersebut memiliki tujuan yakni untuk mencegah dimasukkannya senjata dan peralatan militer ke Indonesia, mencegah dikeluarkannya hasil-hasil perkebunan milik Belanda dan milik asing lainnya dan melindungi bangsa Indonesia dari tindakan-tindakan dan perbuatan-perbuatan yang dilakukan oleh bukan bangsa Indonesia. Akibatnya, Indonesia tidak dapat mengekspor barang-barang dagangan. Selain itu, Indonesia kekurangan barang-barang impor yang sangat dibutuhkan.

C. Kas Negara Kosong
    Karena adanya blokade ekonomi oleh Belanda, maka pendapatan Indonesia menjadi tidak sebanding dengan pengeluarannya. Hal ini disebabkan kurangnya penghasilan dari pajak dan bea masuk dari kegiatan impor barang dari negara pihak asing, dan tidak ada pendapatan nasinional dari kegiatan ekspor Indonesia. Oleh sebab itu, kas Indonesia mengalami kekurangan kas bahkan kosong.
Pada saat yang kritis tersebut, pemerintah Indonesia hanya bisa mengandalkankepada produksi pertanian karena kegiatan industri lainnya tidak berjalan. Usaha pemerintah yang bergantung pada produksi pertanian sangat didukung oleh para petani karena petani adalah golongan petani adalah golongan yang paling merasakan dampak dari inflasi yang sangat tinggi, karena petani merupakan golongan yang paling banyak mempunyai mata uang Jepang yang nilainya turun drastis bahkan digantikan oleh mata uang NICA.

1.2 Kerangka Pemikiran
     Kerangka pemikiran makalah ini adalah berdasarkan dari teori Power oleh Karl Deutsch tentang ruang lingkup kekuasaan Indonesia di internal maupun eksternalnya. Dalam aspek internal, Indonesia yang sedang mengalami krisis ekonomi dengan badan pemerintahan yang masih kacau tidak mampu mengatur keadaan dalam negerinya, sehingga banyak terjadi kerugian karena pemerintah tidak mempunyai kas negara untuk anggaran belanja keperluan negara. Dalam aspek ekspternal, Indonesia belum mendapatkan power atas negaranya sendiri karena ekonomi Indonesia masih diatur oleh pihak sekutu yangmasih menduduki daerah-daerah di Indonesia. Selain itu, Indonesia tidak diperbolehkan untuk melakukan perdagangan dengan negara lain kecuali negara-negara yang diduduki sekutu. Hal itu berarti Indonesia kehilangan powernya untuk mengatur sumber daya alam yang dimilikinya. Ketidak mampuan Indonesia dalam memperoleh powernya, dikarenakan Indonesia belum memiliki kedaulatan yang utuh, atau dapat diakui oleh negara-negara lain dengan status de jure.
    Makalah ini juga mengenai teori tujuan nasional meurt K.J. Holsti. Indonesia saat itu sedang memperjuangkan tujuan jangka pendek, yaitu pengkuan dari negara-negara lain, dan tujuan jangka menengah yaitu pemerintah mengusahakan untuk meningkatkan prestise negaranya biasanya melalui peningkatan pertumbuhan ekonomi. Oleh karena Indonesia mengalami blokade oleh pihak sekutu, maka pemerintah berusaha untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan ekonomi Indonesia, salah satunya adalah penukaran beras dengan imbalan obat-obatan, bahan pakaian serta alat-alat pertanian untuk dapat menunjang pertanian Indonesia yang sangat diandalkan pada waktu itu.

1.3 Pembatasan Masalah
1. Latar belakang adanya diplomasi beras antara Indonesia dan India
2. Mengapa diplomasi beras dilakukan
3. Bagaimana diplomasi beras dilakukan
4. Apa keuntungan yang didapatkan Indonesia dengan adanya dplomasi beras dengan India
5. Kendala apa saja yang dialami Indonesia dan India dalam diplomasi beras

BAB II
ISI

2.1 Strategi Menembus Blokade Ekonomi oleh Sutan Sjahrir
      Dengan blokade yang diakukan oleh Belanda, membuat keadaan ekonomi Indonesia semakin memburuk. Oleh karena itu, Sutan Sjahrir, sebagai Perdana Menteri sekaligus Menteri Luarnegeri Indonesia pada saat itu merancang strategi sebagai bentuk usaha untuk menembus blokade ekonomi.
Pada saat itu, India yang sedang mengalami bencana kelaparan karena dilanda kekeringan menjadi perhatian P.M Sjahrir. Saat itu P.M Sjahrir mengusulkan untuk mengadakan diplomasi beras, yaitu menyarankan untuk membantu India dengan mengirimkan 500.000 ton beras dengan sebagai imbalannya India mengirimkan bahan-bahan pakaian, alat-alat pertanian, atau berupa motor gerobak dan kapal pengangkut yang dibutuhkan oleh Indonesia. Pengiriman beras sebesar 500.000 ton dianggap tidak merugian Indonesia, karena pada saat itu pertanian Indonesia sedang mengalami surplus, yaitu sebesar 200.000 sampai 400.000 ton 4). Tujuan diplomasi simbolik tersebut adalah demi masalah politis Indonesia, yang pada saat itu merupakan negara yang belum diakui oleh keberadaannya oleh negara-negara lain. Bagi Indonesia, harga bukan merupakan hal terpenting. Usaha diplomasi beras lebih diperuntukkan untuk menembus isolasi ekonomi oleh Belanda. Pada pelaksanaan perjanjian Linggarjati mendatang, Indonesia harus menjual surplus beras ke negara-negara yang dikuasai oleh Belanda. Namun, pemerintah memilih menjual beras ke negara-negara sahabat dan mengirimkan beras ke India karena India adalah negara di Asia yang paling aktif membantu peerjuangan diplomatik dalam forum-forum internasional dalam rangka memerdekakan dirinya dan untuk solidaritas bangsa-bangsa Asia.

2.2 Proses Berjalannya Diplomasi Beras
     Indonesia memutuskan untuk menawarkan India beras dimulai sejak tanggal 28 April 1946 karena Indonesia ingin membuktikan kepada Belanda atas berita bahwa Indonesia sedang mengalami bencana kelaparan.
     Kemudian pada bulan Mei 1946, Pemerintah Indonesia memperoleh kepercayaan dari rakyat Indonesia mengenai pengiriman beras ke India. Buktinya saja Jawatan Kereta Api telah menyatakan bahwa mereka bersedia untuk membantu pemerintah dalam pengankutan beras agar sampai dengan selamat di tempat tujuan yaitu menuju pelabuhan. Selain itu, Badan Perekonomian Rakyat Indonesia di Karawang dan Pusat Tenaga Ekonomi menyatakan siap dan sanggup untuk menyediakan masing-masing 15 ton beras.
Tanggal 13 Mei 1946 Perdana Menteri Sutan Sjahrir menerima ucapan terima kasih dari Jawaharlal Nehru. P. M. Sjahrir meminta kepada Nehru untuk mengirimkan wakil dari India untuk membicarakan pengiriman bera dan tukar-menukar barang.
    Bantuan beras yang diajukan Indonesia mulai dibicarakan oleh Perdana Menteri Sjahrir dengan K.L punjabi, yaitu wakil pemerintahan India yang diutus oleh Jawaharlal Nehru yang pada saat itu adalah Perdana Menteri India pada tanggal 18 sampai 19 Mei 1946 di Jakarta. Dalam perundingan ini, pemerintah Indonesia menungu kedatangan kapal pengangkut India yang yang akan mengangkut beras dari Indonesia ke India.
Proses diplomasi tersebut dilakukan oleh P.M Indonesia, Sutan Sjahrir melalui sebuah perjamuan makan untuk K.L. Punjabi. Dalam perjamuan makan tersebut K.L. Punjabi menyetujui pengiriman beras ke India. Kemudian, sebagai tanda persaudaraan, Sutan Sjahrir menyiapkan lalu menyerahkan sekeranjang beras yang ditutupi dengan bendera merah putih yang akan diserahkan kepada Raja Muda Lord Wavell di India.
     Pada tanggal 23 Mei 1946, Indonesia mendapat ucapan terima kasih oleh Dewan Pekerja Partai Kongres India mengenai penawaran 500.000 ton. India beranggapan bahwa bila bantuan beras Indonesia yang dilakukan pada saat keadaan yang penuh masalah kepada India merupakan bentuk persaudaraan yang kekal antara Indonesia dan India. Dinyatakan pula persatuan bangsa India dalam perjuangan kemerdekaan karena India juga sedang mengalami penjajahan oleh Inggris. India juga mengharapkan adanya masa kerjasama antara India Merdeka dan Indonesia Merdeka.
     Pada tanggal 27 Mei 1946 di Jakarta dibentuk Panitia Pengiriman Beras ke India. Panitia tersebut diketuai oleh Ir. Subiarto dengan anggota-anggotanya, yaitu Masdani sebagai ketua bagian Pengumpulan, Ir. Abdulkadir sebagai ketua Pengangkutan, Mr. Sjarufuddin, Mr. Tamsil sebagai ketua bagian Penerangan, Ir. Darmawan, Ir. Abdulkarim, Ny. Mr. M. U. Santoso, Moh. Natsir, Gaoh, Mr. Utojo, Kapten Sudiarso, R.M. Margono Djojohadikusumo, Harsudi, Sastrosuwignjo, Ir. Sosrohadikusumo sebagai ketua Pembagian Barang, dan Suwardi sebagai ketua bagian Keuangan 5).
    Ketua-ketua yang telah terpilih tersebut kemudian membentuk badan pekerja, dan masing-masing merencanakan kegiatan bagiannya.
    Pada tanggal 15 Juni 1946 pemerintah Indonesia telah mendapatkan kabar dari Kantor berita Antara tentang pemberangkatan 4 kapal India ke Indonesia untuk mengangkut 500.000 ton beras yang telah dijanjikan.
     Lalu, tanggal 25 Juni 1946 Perdana Menteri Sjahrir beserta K. L. Punjabi berangkat ke Yogyakarta untuk menemui Presiden Soekarno mengenai masalah beras bersama sejumlah wartawan. Kemudian perjalanan dilanjutkan ke Jawa Timur disertai dengan Ir. Darmawan Mangunkusumo sebagai Menteri Kemakmuran dan Mr. Maria Ulfah Santoso sebagai Menteri Sosial. Perjalanan ke Jawa Timur yang dilakukan oleh rombongan dimaksudkan untuk melihat secara langsusng keadaan padi yang akan dikirimkan ke India. Selain itu, ditetapkan pula pelabuhan Banyuwangi sebagai pelabuhan untuk mengangkut beras yang akan dikirim ke India.
    Setelah mengalami beberapa masalah dan insiden di Banyuwangi, akhirnya pengiriman beras berhasil dilakukan pada tanggal 20 Agustus 1946 melalui pelabuhan Probolinggo beras dapat sampai ke India dengan selamat.

2.3 Manfaat Diplomasi Beras untuk Indonesia
    Seperti yang sudah diterangkan bahwa tujuan utama Indonesia melakukan diplomasi beras dengan India adalah sebagai upaya melepaskan diri dari blokade ekonomi yang dilakukan Belanda. Karena dengan adanya diplomasi beras membuktikan bahwa Indonesia mampu menghasilkan surplus ditengah krisis ekonomi dan membuktikan bahwa di Indonesia tidak ada bahaya kelaparan, seperti yang dikatakan oleh pihak NICA.
    Diplomasi beras juga membuat Indonesia diakui kemerdekaannya oleh ngara-negara lain karena waktu negara-negara asing lainnya belum mengetahui bahwa ada sebuah negara bernama Indonesia karena Indonesia baru saja memerdekakan diri. Hal ini dapat terjadi karena ada bantuan dari pihak India yang membantu Indonesia di forum-forum Internasional seperti di PBB mengenai kemerdekaan Indonesia.
    Kemudian, bantuan India lainnya adalah pengiriman bahan-bahan pakaian, obat-obatan, maupun alat-alat pertanian seperti yang telah menjadi kesepakatan antara Indonesia dan India dalam Diplomasi Beras.
    Selain itu, India juga melarang pesawat terbang Belanda singgah di bandara udara India. Tidak hanya dalam penerbangan, pelabuhan-pelabuhan India pun melarang disinggahi oleh kapal-kapal Belanda yang ingin datang ke India.
    Pertolongan India dan perlakuan India kepada Belanda merupakan bentuk terimakasih kepada keputusan Indonesia untuk memberikan berasnya ke India walaupun keadaan Indonesia sedang genting karena adanya blokade ekonomi oleh Belanda. Pernyataan terimakasih oleh Nehru dinyatakannya di India. Beliau menyatakan salam hormat untuk Perdana Menteri Sutan Sjahrir dan rakyat Indonesia “yang sedang berjuang dengan gagah berani demi kemerdekaanya” 6). Saat itu India juga sedang memperjuangkan kemerdekaannya dari kolonialisasi Inggris.

2.4 Kendala-kendala dalam proses Diplomasi Beras
    Diplomasi beras merupakan strategi yang sangat berhasil dan ampuh dalam mengatasi blokade ekonomi Belanda. Tentu saja, keberhasilan P.M. Sjahrir mengakibatkan kemarahan Belanda. Karena hal tersebut, Belanda tentu saja ingin menghalang-halangi pengiriman beras ke India. Belanda bahkan melakukan tindakan-tindakan sabotase.
    Awalnya, Belanda hanya mondar-mandir di pelabuhan Crebon, saat kapal beras India sedang membongkar 1.2000 ton goni untuk diisi beras dari Indonesia. Pada saat itu, Belanda berhenti di dekat kapal itu, tetapi tidak berbuat tindakan yang “tidak menyenangkan”.
    Namun, pada tanggal 5 Juli 1946 Belanda menyerang kota Banyuwangi dari laut dan udara. Akibat ulah Belanda tersebut kurang lebih 15.000 karung gabah terbengkalai dan terguyur hujan. Dan pelayaran terpaksa dibatalkan karena maslah keamanan dan keselamatan para pegawai. Kejadian tesebut menyebabkan pengiriman beras ke India menjadi terhenti sama sekali. Tetapi pihak sekutu pada saat itu menjamin bahwa hal tersebut tidak akan terulang kembali.
    Tetapi sekali lagi sekutu dan Belanda melanggar janjinya. Pada tanggal 15 Juli Belanda menembakkan meriam di pelabuhan Banyuwangi. Pada saat itu kerusakan d Banyuwangi disaksikan sendiri oleh Moh. Natsir sebagai Menteri Penerangan Indonesia.
    Ternyata kendala tidak hanya didapatkan dari puhak Belanda dan sekutu, tetapi secara tidak langsung kendala berasal dari dalam negeri Indonesia sendiri.
Pada saat Perdana Menteri Sjahrir beserta rombongan berada di Solo tanggal 25 Juni 1946, ketika itu P. M. Sjahrir akan melanjutkan perjalanan ke Banyuwangi untuk melihat keadaan pelabuhan disana. Namun, saat Beliau beserta Rombongan menginap di gedung Bank Indonesia, mereka diculik oleh pengikut Tan Malaka dan ditahan di suatu tempat di Paras 7).
    Hal tersebut menyebabkan keraguan India atas kelanjutan pengiriman beras ke negaranya. Tetapi Presiden Soekarno mengirimkan radiogram kepada K.L. Punjabi pada tanggal 5 Juli 1946 bahwa peristiwa-peristiwa politik di Indonesia tidak berkaitan sama sekali dengan pengiriman beras ke India. Hal tersebut dilakukan agar meyakinkan India untuk tetap melakukan diplomasi beras dengan Indonesia. Tetapi seperti yang telah diterangkan, setelah itu ada penyerangan yang dilakukan oleh pihak Belanda.


BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
    Krisis keuangan yang dialami Indonesia dan pendudukan kembali oleh Belanda mengakibatkan Nica memberlakukan beberapa aturan baru, salah satunya adalah memblokade ekonomi Indonesia. Untuk mematahkan blokade Belanda, Sutan Sjahrir sebagai Perdana Menteri Indonesia memanfaatkan bencana kelaparan India untuk jlan diplomasi. Caranya adalah dengan pengiriman bantuan beras sebesar 500.000 ton dengan imbalan berupa obat-obatan, pakaian, maupun alat-alat pertanian.
    Tujuan selain mematahkan blokade ekonomi Belanda, diplomasi beras ini mempunyai tujuan untuk memperoleh pengakuan dari negara-negara lain karena saat itu Indonesia baru memerdekakan diri melalui bantuan India karena India merupakan negara yang paling aktif di kawasan Asia di forum-forum nternasionjal yang berkaitan dengan kemerdekaan bangsa.
     Namun dalam perjalanannya, Indonesia memperoleh kendala dari dalam maupun dari pihak Belanda, yaitu pemboman dan pembakaran beras di pelabuhan Banyuwangi, serta penculikan Sutan Sjahrir yang membuat India ragu dengan kelanjutan pengiriman beras yang sempat terhenti.
Tetapi walaupun Indonesia mendapat banyak kendala dala pegiriman beras ke India, kapal-kapal India yang datang ke Indonesia untuk mengangkut beras berhasil menjalankan misinya yaitu membawa beras ke India dengan selamat lewat pelabuhan Probolinggo.

3.2 Analisa Kasus
A. Adanya pemanfaatan untuk mendapatkan National Interest
    India yang sedang mengalami bencana kelaparan menjadi sasaran diplomasi Sutan Sjahrir karena dengan adanya bencana itu Sutan Sjahrir memanfaatkan kondisi tersebut untuk memperoleh pengakuan dari negara-negara lain, karena India merupakan negara Asia yang paling aktif dalam masalah memperjuangkan kemerdekaan.
B. Adanya sikap otoriter di dalam suatu Rezim
    Di Indonesia, masih dikuasai oleh sekutu dan Belanda, karena mereka dengan mudahnya dapat menguasai bank-bank di Jakarta bahkan mengatur perekonomian Indonesia dalam perdagangan luar negeri Inndonesia seperti penggantian mata uang, bahkan memblokade ekonomi Indonesia. Hal tersebut membuktikan kepada sekutu bahwa proklamasi dan kemerdekaan Indoneia tidak berpengaruh apapun terhadap kedudukan sekutu dan Belanda di Indonesia.
C. Adanya sikap deskriminasi
   Rasa terimakasih atas pengiriman beras oleh Indonesia, menyebabkan India melakukan tindakan deskriminasi terhadap Belanda dengan melarang pendaratan pesawat di bandara-bandara India, juga pelarangan kapal laut Belanda yang ingin berlabuh di peabuhan-pelabuhan India.
Hal tersebut dikarenakan India selain ingin berterimakasih, juga ingi menggalang persaudaraan dengan Indonesia dalam hal memperjuangkan kemerdekaan negara karena bantuan beras Indonesia menghasilkan keuntungan bagi kedua negara, Indonesia dan India.

3.3 Daftar Pustaka
Buku
Dekker, Nyoman. 1989. Sejarah Revolusi Nasional. Jakarta: Balai Pustaka
Ananta Toer, Pramoedya dan Soebagyo Toer, Koesalah. 1999. Kronik Revolusi Indonesia. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia
Djoened Poesponegoro, Marwati dan Notosusanto, Nugroho. 1992. Sejarah Nasional Indonesia: Jaman Jepang dan Jaman Republik Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka

Referensi Internet
http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/1987/04/25/BK/mbm.19870425.BK31263.id.html
Diakses pada tanggal 19 Mei 2010
http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2009/03/09/LU/mbm.20090309.LU129726.id.html
Diakses pada tanggal 19 Mei 2010
http://menluri.info/web/sutan-sjahrir.html
Diakses pada tanggal 19 Mei 2010
http://sejarahkita.comoj.com/jenny061.html
Diakses pada 22 Mei 2010

End Note

[1] Belanda kembali lagi ke Indonesia dimulai sejak tanggal 23 Agustus 1945 di Aceh. Pada tanggal 15 September 1945, tentara Inggris sebagai wakil sekutu tiba di Jakarta. Sekutu datang ke jakarta dengan membonceng Nica yang dipimpin oleh Dr. Hubertus J Van Mook
[2] Makmoer, no. 2, th. I, 10 Januari, 1946, hlm, 60 pada Sejarah Nasional Indonesia, hlm, 272
[3] Maklumat Presiden RI No. 1/10, tanggal 3 Oktober 1945
[4] Makmoer, no. 9,th. I, 25 April 1946, hlm, 312 pada Sejarah Nasional Indonesia, hlm, 275
[5] Kronik Revolusi Indonesia, Jilid 1, hlm, 215
[6] Salam Perdana Menteri India, Jawaharlal Nehru disiarkan melalui Free Press of Journal, suatu kantor pemberitaan India pada 8 April 1946 dan tersiar di Jakarta pada 12 April 1946.
[7] Beliau diculik pada Jumat subuh ketika baru bangun tidur dan dibawa ke daerah pegunungan sekitar 40km dari Solo, yaitu ke villa Susuhan. Beliau diculik oleh 12 oranng Tentara Republik Indonesia yang mendapat upah dari kaki tangan Belanda. Namun rupanya tentara-tentara tersebut tidak mengetahui apapun siapa yang mereka culik, walaupun akhirnya setelah mereka mengetahui siapa yyangmereka culik, mereka sangat menyesali tindakan mereka.
Kronik Revolusi Indonesia, Jilid 1, hlm, 260

2 komentar:

  1. Nice article, good job! Dalam simpulan tidak pernah ada lagi analisa karena seleluruh bentuk analisa seharusnya masuk dalam badan pembahasana. Simpulan hanya menyimpulkan pembahasan analisa sebelumnya,

    BalasHapus
  2. pemikirannya yang sangat bodoh dan tolol

    BalasHapus